Membaca dan Buku Harus jadi hal yang Biasa-biasa saja
Mungkin sebagian orang menganggap membaca adalah sebuah keistimewaan, apalagi membaca buku. Sebagian orang mengira bahwa membaca buku merupakan hal yang tidak biasa dan dianggap suci. Padahal selama kita masih bernafas, kita tidak akan pernah lepas dari aktivitas membaca. Mengutip tweet dari mas Wisnu Suryaning Adji, "membaca harus sewajar makan gorengan dipinggir jalan". Benar sekali, membaca bukan aktivitas yang sakral dan para pembaca buku juga bukan orang yang keren.
Untuk membangun kebiasaan membaca buku bukanlah hal yang mudah, karena kita harus mengorbankan kesenangan yang terlanjur mendarah daging, seperti sibuk dengan ponsel, scroll medsos, bermain game, nonton tv, dan lain sebagainya. Lebih dari itu seharusnya kita yang menginginkan Indonesia menjadi lebih baik, perlu meyakini bahwasanya dengan membaca buku maka kita akan menjadi manusia yang berkualitas.
Jika masih beralasan tidak ada waktu untuk membaca buku, maka jadikanlah ia sebagai prioritas. Kita dan manusia yang lainnya mempunyai waktu 24 jam setiap harinya. Kita bukan satu-satunya orang yang sibuk sehingga tidak memiliki sedikit waktu luang untuk membaca buku. Dengan menjadikannya sebagai prioritas maka kita tidak akan pernah beralasan tidak memiliki cukup waktu untuk membaca.
Sebelum aktivitas membaca dan buku menjadi hal yang bisa-bisa saja, atau dalam artian semua orang rutin membaca buku sehingga menjadikan kegiatan membaca menjadi sesuatu yang umum dan sangat biasa, maka PR literasi beserta dunia pendidikan di Indonesia masih banyak. Kita sendiri harus menyadari betul bahwa Indonesia memang banyak tertinggal dengan negara lain, terkhusus tentang kecakapan literasinya. Dan hal yang esensial dalam dunia pendidikan merupakan literasi, kecakapan literasi berarti seseorang mampu menangkap informasi serta dapat menganalisis maupun berpikir kritis terhadap informasi yang di tangkap. Semakin banyak bahan bacaan atau literatur yang dibaca maka semakin terbuka pula pemikiran kita.
Pada perkembangan Ilmu pengetahuan yang pesat seperti sekarang ini, Indonesia mesti bergerak maju untuk mengejar ketertinggalannya. Untuk meningkatkan SDM yang berkualitas, Indonesia harus meningkatkan daya saing guna menciptakan peradaban yang lebih baik dimasa mendatang. Dengan kecakapan literasi, maka SDM Indonesia dapat bersaing dengan bangsa lainnya.
DAFadilah.

Komentar
Posting Komentar